Matadewa, Film Basket Drama Remaja yang Penuh Intrik dan Tantangan

Jakarta, MediaProfesi.com – Masyarakat tak lama lagi bakal mendapat suguhan film layar lebar nasional yang sangat menarik ditonton baik bagi anak remaja maupun orang dewasa, yakni film olahraga basket pertama yang di produksi di Indonesia dengan judul “Matadewa”.

Film drama remaja “Matadewa” ini merupakan buah karya kerjasama Shanaya Films Production House dengan Sinema Imaji dan DBL, dengan sutradara Andibachtiar Yusuf dan Avesina Soebli (tim produser film Laskar Pelangi) dari Sinema Imaji.

“Film Matadewa menarik, karena film olahraga basket pertama di Indonesia, dan pesannya juga sangat menarik baik buat anak remaja maupun orang tua,” kata Imelda Budiman, Founder & Produser  Shanaya Films Production House pada acara jumpa pers di Jakarta (14/7/2017).

Menurut Imelda, Mrs Indonesia World menyatakan, di saat kita mencapai tujuan cita-cita pasti kita banyak menghadapi kendala, tantangan, dan kesulitan. Tetapi dalam menghadapinya kita harus tetap semangat untuk mengatasi kendala tersebut dengan tetap fokus pada tujuan yang kita mau.

Dia juga mengajak masyarakat Indonesia untuk menonton film yang sedang diproduksi ini, mengingat pesannya sangat positif bagi anak-anak muda. Dan ini sportif, kebetulan keluarga saya juga suka basket, saya tinggal lama di Amerika dan sangat senang dengan NBA.

“Bahkan kita sekeluarga sering nonton basket. Jadi ini film yang positif lah bagi anak-anak muda,” ujarnya yang juga turut terlibat dalam film yang tengah memasuki shooting di Surabaya ini dengan peran sebagai ibunya Dewa.

Sementara untuk biaya pembuatan film drama remaja “Matadewa” ini, menurut wanita yang pada awal 2017 dinobatkan sebagai Mrs Global Ambassador, oleh penyelenggara Mrs Asia USA, Virgelia Productions, menuturkan untuk biaya produksi film “Matadewa” totalnya sekitar Rp 5 miliar.

Film “Matadewa” bercerita tentang seorang siswa pebasket muda berbakat bernama Dewa yang ingin membawa sekolahnya, SMA Wijaya menjadi juara untuk pertama kalinya.

Dewa yakin ia dan timnya akan dapat meraih gelar juara tersebut, meskipun minim dukungan dari guru dan teman-teman di sekolahnya.

Beruntung ada pelatihnya coach Miko, lalu ada Bhumi, coordinator supporter yang selalu menyemangatinya, dan juga Bening, reporter majalah dinding yang selalu mengikuti perjalanan tim basket SMA Wijaya dari pertandingan ke pertandingan.

Seiring berjalannya waktu, Bening menaruh hati pada Dewa, sedangkan Bhumi menaruh hati pada Sitta. Petaka menimpa Dewa, ia diserang oleh preman jalanan yang mengakibatkan satu matanya tidak dapat berfungsi dengan baik, sehingga menghambatnya untuk bermain basket. Dengan dukungan Bhumi, coach Miko, Bening, dan seorang petinju, Dewa berupaya bangkit dari keterpurukan.

Film yang berlokasi shooting di Surabaya ini dibintangi dengan sederet artis ternama Indonesia, seperti Kenny Agustin, Chelsea Agatha, Brandon Salim, Aryo Wahab, Valerie Tifanka, Dodit Mulyanto, Enrikemal Noerkemal, Nino Fernandez, dan Imelda Budiman.

Proses shooting dimulai tanggal 12 hingga 28 Juli 2017 dengan mengambil shooting di daerah Surabaya. Imelda mengemukakan alasan dipilihnya kota Surabaya, karena ada stadium DBL yang besar dan disitu juga pada tanggal 19 Juli 2017 ada final, jadi kita sekalian bisa melakukan shooting bersama.

Mengingat waktu yang sangat singkat dari awal shooting di pertengahan Juli dan rencana tayang pada awal November 2017.

“Kita optimis akan bisa tercapai, dimana shooting selesai tanggal 28 Juli 2017, dan kita langsung melakukan post production, diharapkan sudah bias memneuhi target tayang awal November mendatang,” ujarnya kepada redaksi MediaProfesi.com menutup pembicaraan yang ditemui disela acara syukuran shooting dan launching Shanaya Films. * (Syam)

Sumber : www.mediaprofesi.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *